Dahsyatnya Matematika Alloh

Anaajat 04.49

Seorang sahabatku berkata dengan kalimat liris:
sampai juga engkau di kampung halaman: Ka'bah. bukan kata yang terucap, tapi air mata. kekasih yang lama bersemayam sepanjang usia,
kini cuma seayun mata.
Labbaik Allaahumma Labbaik.
dari jauh beribu kilo di negeri rantau
kubertanya: kapan kiranya giliran hamba

Ah andai saja mereka tahu. Matematika Allah jauh lebih mencengangkan ketimbang 1+1 = 2 atau ONH Rp 36 juta : Rp 500 ribu/bulan = 72 bulan. Percayalah. Setidaknya saya telah menemui empat orang yang telah membuktikan betapa mencengangkan matematika Allah itu. Jauh lebih hebat ketimbang Kumon. Hitungan itu bisa meleset jauh lebih cepat dari perkiraan.

Hari Soeharto, nama sahabat saya. Dia sedang duduk di serambi masjid usai salat Isya ketika seorang sahabat menepuk pundaknya. “Pak, bagaimana kalau kita pergi haji?” tanyanya. Hari, yang cuma pensiunan pegawai biasa dari Pemerintah Kotamadya Jakarta Timur itu, menjawab dengan pesimis. “Mana mungkin. Haji tinggal setahun lagi, tabungan saya cuma Rp 4 juta. Tak mungkin bisa cukup,” katanya.

“Sudahlah, kita coba saja menabung haji. Siapa tahu Allah membuka jalan untuk kita,” Tabungan saya juga cuma Rp 5 juta. Saya juga cuma prajurit biasa,” katanya meyakinkan. “Tak ada ruginya membuka tabungan haji.”

Dua lelaki yang secara hitungan matematika “mustahil” bisa memenuhi ONH yang tahun lalu besarnya Rp 32 juta itu, lalu seminggu kemudian membuka tabungan haji. Dan 12 bulan kemudian saya menemukan orang-orang tulus itu sudah melunasi ONH. “Bagaimana mungkin?” tanya saya. “Itulah matematika Allah yang kami juga tak mengerti,” kata Pak Hari. “Kalau cuma uang pensiun tak mungkin. Tapi, tiba-tiba Allah memberi rezeki lewat anak saya.”

Saya masih ingat betapa sumringah wajahnya saat dia menceritakan matematika Allah itu. Dan beberapa hari sepulang haji, kawan saya itu dipanggil Allah untuk selamanya. Duh, ya Allah betapa bahagianya. Semoga Allah merahmati jalannya.

Hari, juga sahabat saya yang tentara itu, mereka percaya seperti percayanya para sahabat Nabi terhadap pertolongan Allah ketika berperang 100 orang melawan 1.000 orang di Badar. Saat segelintir orang berteriak dengan harap-harap cemas, “matta nasrullah, matta nasrullah (mana pertolongan Allah)? sahabat lain berjuang dg penuh keyakinan. Dan pertolongan itu datang kepada orang-orang yg yakin… begitu kata ustad masjid sebelah rumah saya.

Andai sang kekasih yang dipanggil-panggil dalam puisi itu bisa menceritakan segalanya. Betapa banyak orang-orang Pakistan dan India jauh lebih miskin dari kebanyakan orang Jakarta yang berponsel dua. Mereka pincang. Tidur di emperan Masjidil Haram dengan baju butut dan koper pakaian yang selalu diseret-seret ke mana-mana. Tak ada asrama. Tapi mereka meniru Ibnu Batutah (petualang muslim yang perjalanannya lebih jauh ketimbang Marcopolo) menempuh jalan berdebu, penuh perompak, lewat darat atau kapal, memenuhi panggilan Kekasih.

Jangan pernah berhenti berharap. Jangan under estimate. Allah pasti memudahkan jalan orang-orang yang bersungguh-sungguh. In syaa Allaah.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

Silahkan komentari