RINGKASAN TENTANG BULAN RAJAB
Oleh: Ummu Nawwaf Yusfiani
Alhamdulillah, tak terasa kita sudah memasuki bulan Rajab yang merupakan salah satu dari empat bulan haram "bulan-bulan mulia", dimana dibulan-bulan ini kita dianjurkan untuk memperbanyak ibadah yang dicontohkan nabi kita Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam karena pahalanya akan dilipat gandakan, juga diperintahkan untuk meninggalkan peperangan atau genjatan senjata sebagai bentuk penghormatan terhadap bulan-bulan mulia ini. Maka sebagaimana dilipat gandakannya pahala maka dosapun dilipat gandakan bagi yang bermaksiat ataupun melakukan amalan-amalan yang tidak ada dasarnya wal'iyaadzu billah.
Keempat bulan mulia tersebut yaitu: Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab. Sebagaimana sabda nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam:
عن أبي بكرة، عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال: "إن الزمان قد استدار كهيئته يوم خلق الله السموات والأرض، السنة اثنا عشر شهرا، منها أربعة حرم، ثلاثة متواليات: ذو القعدة، وذو الحجة، والمحرم، ورجب شهر مضر الذي بين جمادى وشعبان"
( رواه البخاري 6/83 , ومسلم 1/1305 )
Artinya :
Dari Abi bakrah, dari Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam beliau bersabda:
"Sesungguhnya masa itu telah berputar sebagaimana keadaannya disaat Allah menciptakan langit dan bumi, satu tahun itu ada dua belas bulan, diantaranya ada empat bulan mulia, tiga bulan diantaranya berturut-turut yaitu: Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab Mudhar* yang terletak antara Jumada dan Sya’ban.
(HR.Bukhari 6/83, Muslim 1/1305).
Pendapat para ulama tentang dilipat gandakannya pahala dan dosa di bulan-bulan mulia ini berdasarkan firman Allah ta'ala:
إن عدة الشهور عند الله اثنا عشر شهرا في كتاب الله يوم خلق السماوات والأرض منها أربعة حرم ذلك الدين القيم فلا تظلموا فيهن أنفسكم
(التوبة: ٣٦)
Artinya :
"Sesungguhnya bilangan bulan disisi Allah ialah dua belas bulan dalam ketetapan Allah diwaktu Dia menciptakan langit dan bumi, diantaranya terdapat empat bulan haram. Itulah ketetapan agama yang lurus, maka janganlah kalian menganiaya diri kalian sendiri pada bulan-bulan tersebut".
(QS. At-taubah :36)
Imam Ibnu katsir Rahimahullah menafsirkan bahwa dhomir "فيهن" dalam firman Allah "فلا تظلموا فيهن أنفسكم"
Hal itu kembali pada empat bulan haram, karena pada empat bulan tersebut dosa-dosa dilipat gandakan. (Jadi bermakna: maka janganlah kalian menganiaya diri kalian sendiri pada empat bulan haram tersebut).
Kemudian beliau menukil perkataan Qotadah Radhiallahu 'anhu:
"Sesungguhnya kedzaliman yang dilakukan pada bulan haram lebih besar dosanya dibanding kedzoliman yang dilakukan pada bulan-bulan selainnya, walaupun kedzoliman itu perkara yang besar dalam setiap keadaan akan tetapi Allah membesarkan sesuatu (diwaktu-waktu tertentu) sebagaimana yang Dia kehendaki”.
Dan beliau juga menyebutkan perkataan Ali bin Abi Thalhah dari Ibnu Abbas Radhiallahu 'anhuma bahwa dhamir tersebut kembali pada semua bulan (dua belas bulan) kemudian dikhususkan empat bulan mulia dari dua belas bulan tersebut. Dan Allah agungkan kemuliaannya dengan dijadikan dosa yang dilakukan pada bulan-bulan tersebut berlipat ganda sebagaimana dilipat gandakan pula pahala amal sholeh. (Jadi bermakna: maka janganlah kalian menganiaya diri kalian sendiri pada dua belas bulan tersebut, terutama pada empat bulan haram itu).
(lihat : tafsir ibnu katsir 4/148)
Semua keutamaan tersebut umum untuk empat bulan mulia yaitu : Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab.
Adapun mengenai fenomena yang terjadi di masyarakat kita dengan mengkhususkan amalan-amalan tertentu hanya di bulan Rajab diantaranya:
1- Do’a masuk bulan rajab
عن أنس بن مالك، رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم كان إذا دخل رجب قال: «اللهم بارك لنا في رجب وشعبان، وبلغنا رمضان»
Dari Anas bin Malik -radhiallahu 'anhu- bahwasanya Nabi -shallallahu 'alaihi wasallam apabila masuk bulan Rajab beliau berdo’a: "Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan”.
(HR. At-Thabrani 1/284).
Do’a ini sangat populer di masyarakat kita, akan tetapi bagaimanakah kedudukan hadits tersebut menurut para ulama hadits?
- Menurut imam Adz-Dzahabi -rahimahullah-: "Dalam sanadnya terdapat Zaidah bin Abirraqqad dan Ziyad An-Namiri,kedua-duanya dhaif”.
(Mizanul I’tidal 2/65 ).
- Menurut imam Ibnu Hajar AlAsqolani Rahimahullah: "Hadits ini dha’if, dan ada isnad yang lain zahirnya kelihatan shahih tapi sebenarnya maudhu' buatan Abi Barakat”.
(Tabyiinul 'ajab: 19).
- Menurut syaikh Al-Albani Rahimahullah: "Lemah".
(Dha’iful jami’4/395).
- Menurut imam An-Nawawi -rahimahullah-: "Isnadnya lemah".
(Al-Adzkar: 245).
2- Mengkhususkan puasa di bulan Rajab
Syaikhul islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah berkata:
"وأما صوم رجب بخصوصه، فأحاديثه كلها ضعيفة، بل موضوعة، لا يعتمد أهل العلم على شيء منها، وليست من الضعيف الذي يروى في الفضائل، بل عامتها من الموضوعات المكذوبات ..."
"Adapun shaum khusus di bulan Rajab semua hadis-haditsnya lemah bahkan palsu, tidak dijadikan landasan oleh ahli ilmu, dan tidak termasuk hadist dha'if yang meriwayatkan tentang keutamaan-keutamaan (akhlak), bahkan semuanya termasuk hadits-hadits yang palsu dan dusta…".
(Al-fataawalkubra 2/478).
3- Merayakan isra’ dan mi’raj
Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah dalam kitabnya “Zaadul ma’aad” menukil jawaban Syaikhul islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah ketika ditanya tentang keutamaan malam isra dan mi’raj:
"لم يقم دليل معلوم لا على شهرها ولا على عشرها ولا على عينها، بل النقول في ذلك منقطعة مختلفة ليس فيها ما يقطع به ..."
"Tidak ada dalil yang menyebutkan (keutamaan) bulan tersebut, dan tidak ada juga (dalil yang menyebutkan keutamaan) sepuluh hari di bulan tersebut, bahkan tidak ada juga (dalil yang menyebutkan keutamaan) malam isra' itu sendiri. Akan tetapi penukilan-penukilan tersebut terputus dan berbeda-beda tidak ada dalil yang qoth’i tentang hal itu…”
(Zaadul ma’aad 1/58).
4- Mengkhususkan bulan Rajab dengan I’tikaf
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata:
"أما تخصيص رجب وشعبان جميعا بالصوم أو الاعتكاف فلم يرد فيه عن النبي صلى الله عليه وسلم شيء ولا عن أصحابه. ولا أئمة المسلمين..."
"Adapun mengkhususkan bulan Rajab dan Sya’ban dengan puasa atau I’tikaf, maka hal tersebut sama sekali tidak ada sumbernya dari nabi Shallallahu 'alaihi wasallam dan tidak juga bersumber dari para sahabatnya ataupun dari aimmatul muslimin…”
(Majmu’ul fatawa 25/290).
Itulah diantara amalan-amalan yang populer dilaksanakan oleh sebagian masyarakat dibulan Rajab. Padahal tidak ada dalil yang mengkhususkan keutamaan-keutamaan tersebut selain keutamaan empat bulan mulia yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab tanpa mengutamakan salah satu dari bulan-bulan tersebut.
Mudah-mudahan kita tidak mudah terkecoh atau tertipu dengan perkataan orang-orang mengenai hal ini, karena landasan kita dalam menerima kebenaran ialah adanya dalil yang SHAHIH.
Adapun apabila kita melaksanakan ibadah-ibadah sunnah baik itu shaum daud, shaum senin kamis, shaum ayyamul biidh atau melaksanakan I’tikaf, ’umroh dll TANPA meyakini kekhususan ibadah tersebut di bulan Rajab saja (tetapi dibulan harom lain juga). Atau kita terbiasa melaksanakan ibadah-ibadah tersebut di setiap bulan maka lanjutkanlah..
Wallahu a’lam.
Inilah tulisan ringkas tentang bulan Rajab, semoga menjadi ilmu yang bermanfaat buat kami dan para pembaca.
وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم, والله تعالى أعلم
Ket:
*Rajab Mudhar : dinisbahkan kepada qabilah Mudhar karena qobilah Mudhar mengagungkan bulan ini.
Makkah Almukarramah
1 Rajab 1434 H
By: Ummu Nawwaf Yusfiani M. Fattah, LC

Silahkan komentari