1. Anak Didik
Pendidikan ibarat uang logam, selalu memiliki
dua sisi yang bisa dibedakan, tetapi tidak bisa dipisahkan. Satu sisi ada yang
bertugas sebagai pendidik, di sisi lain ada yang bertugas sebagai peserta/anak
didik. Proses pendidikan berarti terjadinya aktivitas antara pemberi dan
penerima.
Anak didik merupakan salah satu dari dua sisi
tersebut yang memiliki tugas menerima konsep pendidikan agar dirinya terbentuk
sebagai insan muslim yang kenal dan tahu akan Tuhan dan agamanya,
memiliki akhlak Al-Qur’an, bersikap, bersifat, dan bertindak sesuai dengan
kaidah Al-Qur’an, berpikir dan berbuat demi kepentingan umat serta selalu turut
ambil bagian dalam kegiatan pembangunan manusia seutuhnya.
Dalam membicarakan anak didik, ada dua hal
penting yang harus diperhatikan oleh pendidik,
yaitu:
1.
Hakikat
Anak Didik
Membicarakan anak didik sesungguhnya kita
membicarakan hakikat manusia yang memerlukan bimbingan. Para ahli psikologi
mempunyai pandangan yang berbeda terhadap manusia. Aliran psikoanalis beranggapaan
bahwa tingkah laku manusia pada dasarnya digerakkan oleh dorongan-dorongan dari
dalam yang mengontrol kekuatan psikologis yang sejak semula ada dalam diri
individu.
Aliran humanistik mengatakan bahwa manusia
senantiasa dalam proses untuk wujud (becoming) namun tak pernah selesai
dan tidak pernah sempurna. Tingkah laku manusia digerakkan oleh rasa tanggung
jawab sosial dan kebutuhan untuk mencapai sesuatu. Sementara aliran
behaviorisme beranggapan bahwa tingkah laku manusia merupakan reaksi dari
rangsangan yang datang dari luar dirinya. Manusia dapat dipengaruhi oleh
lingkungan karena proses interaksi terus menerus antar individu dengan
lingkungannya.
Islam menempatkan manusia sebagai makhluk yang termulia dari semua makhluk
Tuhan lainnya dan memberikan kepadanya amanah sebagai khalifah di jagad raya
ini. Firman Allah:
Artinya: “Ingatlah
ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak
menjadikan seorang khalifah di muka bumi ….” (QS. Al-Baqarah: 30)
Al-Qussy membagi kebutuhan manusia ke dalam dua
kebutuhan pokok, yaitu: a) kebutuhan primer, yaitu kebutuhan jasmani seperti
makan, minum, seks, dan sebagainya. b) kebutuhan sekunder, yaitu kebutuhan
rohaniah. Selanjutnya ia membagi kebutuhan rohaniah kepada 6 (enam) macam,
yaitu kebutuhan kasih sayang, rasa aman, rasa harga diri, rasa bebas, sukses
dan kebutuhan akan suatu kekuatan pembimbing atau pengendalian diri manusia
seperti pengetahuan.
Kemudian Law Head, membagi kebutuhan manusia
kepada: kebutuhan jasmani dan rohani, seperti istirahat, rekreasi, dan
lain-lain, kebutuhan sosial serta kebutuhan agama.6
Di kalangan ahli pendidikan timbul suatu problem
tentang apakah benar anak itu dapat dibimbing melalui jalur pendidikan? Maka
seiring dengan itu terdapat tiga aliran yaitu: 1) Aliran Nativisme, yang
berpendapat bahwa sejak lahir anak telah mempunyai pembawaaan yang kuat,
sehingga tidak dapat menerima pengaruh dari luar (lingkungan). Baik buruknya
seorang anak sangat ditentukan oleh pembawaan yang dimilikinya. Aliran ini
dikemukakan oleh Schopenhauer dari Jerman. 2) Aliran Empirisme, yang
dipelopori oleh John Locke yang mengemukakan pendapatnya dengan teori tabula
rasa. Ia mengatakan bahwa pendidikan sangat mampu memberikan pengaruh yang
kuat terhadap perkembangan anak. Baik buruknya seorang anak tergantung kepada
pendidikan yang ia terima dari lingkungan sekitarnya. 3) Aliran Konvergensi,
yang dianggap sebagai perpaduan dari kedua aliran sebelumnya. Aliran ini
dipelopori oleh William Stern, yang berpendapat bahwa perkembangan jiwa anak
dipengaruhi oleh pembawaan yang dimilikinya di samping lingkungan yang ada di
sekitarnya, atau dengan kata lain, bahwa perkembangan anak itu tergantung pada
pembawaan dan pendidikan.7
Dari ketiga aliran tersebut di atas, aliran
konvergensi dinilai memiliki persamaan dengan konsep ajaran Islam. Menurut
konsep ajaran Islam, bahwa setiap anak mempunyai pembawaan (kecenderungan)
untuk beragama yang dikenal dengan istilah “fitrah”. Namun fitrah
(potensi dasar) tersebut dapat berkembang ke arah yang lebih positif apabila
memperoleh pendidikan/bimbingan yang baik dari lingkungan sekitarnya dan
sebaliknya, fitrah (potensi dasar) tersebut dapat berkembang ke arah yang lebih
negatif apabila memperoleh pendidikan/bimbingan yang buruk dari lingkungan
sekitarnya.

Silahkan komentari